Perjalanan Syiar Menuju Baitullah




Pagi itu, langit sedikit berawan ketika kami memulai perjalanan menuju rumah Pak Sariban, di tengah perkampungan kecil di kecamatan Jiken. Jalan menuju ke sana berliku, terjal, dan berbatu, membuat kendaraan kami berguncang-guncang. Di kejauhan, pepohonan hijau lebat menjadi latar perjalanan kami yang penuh kesabaran.

Sesampainya di rumah Pak Sariban, kami disambut dengan senyuman hangat dan salam khasnya, “Assalamualaikum!” Meski sederhana, suasana di rumah itu terasa begitu damai. Kami segera menyiapkan perlengkapan seperti laptop, LCD, dan sistem suara yang kami bawa untuk keperluan acara sosialisasi umrah. Sementara itu, lantunan sholawat menggema, mengiringi kedatangan tamu satu per satu. Ada kedamaian tersendiri dalam suara sholawat yang lirih namun menyejukkan hati.

Pak Haris, yang memimpin acara, mulai menjelaskan keutamaan ibadah umrah dengan penuh kelembutan. Kata-katanya membawa harapan dan rasa rindu pada Baitullah, membuat para tamu yang hadir tersentuh. Satu per satu, mereka mengucapkan niat umrah, talbiyah, dan berdoa bersama, seolah-olah perjalanan suci itu sudah begitu dekat di hadapan mereka.

Di sela acara, beberapa jamaah bertanya tentang biaya dan persyaratan yang diperlukan. Dengan ramah, kami jelaskan bahwa total biaya perjalanan umrah adalah 35 juta rupiah, dengan opsi DP sebesar 1 juta. Mendengar hal ini, antusiasme mereka bertambah. Beberapa orang maju untuk menyerahkan uang muka sambil mengucapkan niat yang tulus. Rasa syukur terpancar dari wajah-wajah mereka, wajah yang menyimpan impian untuk menjadi tamu Allah di Tanah Suci.

Setelah makan bersama dan melaksanakan sholat ashar, kami berpamitan karena masih ada satu acara lagi di Desa Talun, Ketringan, yang jaraknya cukup jauh. Jalan menuju ke sana kembali mengingatkan kami pada jalan sebelumnya—sempit, berliku, dan penuh tantangan. Namun, setiap langkah terasa penuh makna karena semua ini dilakukan untuk menyebarkan semangat menuju Baitullah.

Sesampainya di sana, acara sudah hampir selesai. Setelah do’a manaqib, Pak Haris memberikan motivasi kepada para jamaah tentang pentingnya mempersiapkan diri untuk beribadah dan meraih ridha Allah. Acara ini diakhiri dengan makan bersama sambil menonton rekaman perjalanan umrah yang telah kami lakukan sebelumnya, membuat suasana semakin meriah. Tiga jamaah yang pernah ikut dalam perjalanan tersebut juga hadir, membagikan pengalaman mereka yang menginspirasi.

Menjelang maghrib, para jamaah berpamitan pulang. Kami melanjutkan dengan sholat berjamaah dan pembacaan Yasin dan tahlil bersama bapak-bapak di sana. Setelah sholat isya, kami pulang dengan hati yang penuh rasa syukur, menyadari betapa indahnya nikmat Allah dalam perjalanan syiar ini. Rasa lelah pun sirna, digantikan dengan kehangatan batin, impian, dan doa untuk terus diberi kekuatan mengajak saudara-saudara kami menuju jalan-Nya.

Malam itu, tidur kami begitu lelap, dengan hati yang damai, membawa harapan agar kelak kami dan para jamaah yang hadir dapat memenuhi panggilan Allah di Baitullah.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulasan Program “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” oleh Kemendikdasmen

Pertemuan Jamaah Umroh As-Sakinah di Mifa Tour: Mengukuhkan Keberkahan dan Ketaqwaan

Pemanfaatan Artificial Intelligence dalam Pembelajaran di SMP Negeri 1 Bogorejo