"AMANAH JABATAN, INTEGRITAS DAN LARANGAN MEMPERKAYA DIRI"



مَنْ وُلِّيَ الْقَضَاءَ وَلَمْ يَفْتَقِرْ فَهُوَ لِصٌّ

Penjelasan:

  1. Teks Arab dengan Terjemahannya
    • مَنْ وُلِّيَ الْقَضَاءَ
      Artinya: "Barang siapa yang diberi jabatan (dalam hal ini jabatan sebagai hakim/qadhi)."
      Kata وُلِّيَ adalah bentuk pasif dari kata وَلَّى, yang berarti "diberi kekuasaan/jabatan".
    • وَلَمْ يَفْتَقِرْ
      Artinya: "Dan dia tidak menjadi miskin (karena jabatan itu)."
      Kata يَفْتَقِرْ berasal dari akar kata فَقْر yang berarti "kemiskinan". Frasa ini bermakna bahwa seorang hakim idealnya tidak menggunakan jabatan tersebut untuk memperkaya diri, melainkan siap menerima tanggung jawab, bahkan jika itu membuatnya hidup sederhana.
    • فَهُوَ لِصٌّ
      Artinya: "Maka dia adalah pencuri."
      Kata لِصٌّ bermakna pencuri, menunjukkan bahwa tindakan mengambil keuntungan dari jabatan tersebut dianggap sebagai bentuk pengkhianatan dan pencurian.

  1. Makna Filosofis dan Etika Jabatan
    Dalam Islam, jabatan adalah amanah yang besar. Khususnya jabatan sebagai qadhi (hakim), seseorang bertanggung jawab untuk menegakkan keadilan berdasarkan hukum Allah. Imam Syafi'i mengingatkan bahwa jabatan ini bukanlah sarana untuk memperkaya diri, melainkan tugas yang berat yang bahkan dapat mengakibatkan kemiskinan jika dijalankan dengan benar. Hal ini selaras dengan banyak kisah para sahabat Rasulullah yang hidup sederhana meski memiliki jabatan penting.

  1. Kenapa Disebut "Pencuri"?
    Dalam Islam, harta yang diperoleh dari jalan yang tidak halal, seperti menyalahgunakan jabatan untuk keuntungan pribadi, dianggap sebagai bentuk pencurian.
    • Seorang pejabat yang memperkaya diri dengan memanfaatkan posisinya berarti telah mengambil hak masyarakat yang diamanahkan kepadanya.
    • Jabatan, terutama dalam hal kehakiman, adalah untuk kepentingan umat, bukan untuk kepentingan pribadi. Oleh karena itu, mereka yang memanfaatkan jabatan tersebut untuk tujuan duniawi sama dengan mencuri hak orang lain.

  1. Konteks dalam Kehidupan Modern
    • Prinsip ini sangat relevan di era sekarang, terutama dengan banyaknya kasus korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan nepotisme di berbagai lembaga.
    • Pesan Imam Syafi'i ini mengajarkan pentingnya integritas, keadilan, dan ketakwaan dalam menjalankan jabatan, terlepas dari godaan duniawi.

  1. Pelajaran yang Bisa Diambil
    • Jabatan adalah amanah, bukan kehormatan.
    • Menjadi pejabat atau pemimpin menuntut pengorbanan, termasuk kesiapan hidup sederhana.
    • Mereka yang menyalahgunakan jabatan untuk kepentingan pribadi akan dimintai pertanggungjawaban di dunia dan akhirat.
    • Seorang pemimpin sejati menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan dirinya.
  2. Nilai yang Bisa Diambil:

    1. Integritas dalam Kepemimpinan: Jabatan adalah amanah yang harus dijaga dengan baik, bukan sarana untuk mencari keuntungan pribadi.
    2. Pengelolaan Harta yang Amanah: Harta yang diperoleh melalui jalan yang tidak sesuai syariat adalah bentuk pengkhianatan.
    3. Pentingnya Akhlak dalam Pemerintahan: Pemimpin atau pejabat harus memiliki akhlak yang baik untuk menegakkan keadilan.

Ungkapan Imam Syafi'i ini adalah peringatan keras bagi siapa pun yang memegang jabatan agar menjaga integritas dan menjadikan jabatan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan untuk mengejar kenikmatan dunia.

Pesan utamanya adalah bahwa seseorang yang mendapatkan jabatan atau tanggung jawab, seperti hakim (qadhi), seharusnya menjalankan tugasnya dengan integritas dan tidak menggunakan jabatan tersebut untuk memperkaya diri sendiri. Jika dia menjadi lebih kaya karena jabatannya, itu dianggap sebagai penyalahgunaan amanah, yang dalam istilah ini diibaratkan seperti seorang pencuri.


Komentar

  1. Sangat menginspirasi, akhlak sangat penting dalam kehidupan di segala lini

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulasan Program “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” oleh Kemendikdasmen

Pertemuan Jamaah Umroh As-Sakinah di Mifa Tour: Mengukuhkan Keberkahan dan Ketaqwaan

Pemanfaatan Artificial Intelligence dalam Pembelajaran di SMP Negeri 1 Bogorejo